Jumat, 07 Mei 2010

madrasah cinta


Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah
pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus
ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama
pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu
kepastian dari seorang bidan; “positif”.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali
benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak
berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si
kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah
ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya
tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya,
ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu
bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar
tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang
terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-
anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan
bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga,
kecuali anak-anak.


Si kecil baru saja berucap “Ma…”, segera ia
mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar
telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara
haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari
pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah
awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus
menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak
terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di
tengah jalan.
“Demi anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di
pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang
kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam
tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya,
setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.
Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil
baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil.
Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan,
demi anak.
Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas,
periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah
anak, 2. Beli susu anak …, nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang
lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi
prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan
susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa
pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak
pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan
menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi
puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.
Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan
menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya
menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun,
mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu
yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen
didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus
menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura
si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata
barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya
menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun
mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan
anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling
ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta
merta kalimat, “sudah makan belum?”, tak lupa terlontar saat baru saja
memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang
dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli
makan siangnya sendiri di kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan
terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama
pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu
menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera
air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah
hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum
bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati
yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi
hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam
harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara
tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan
berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “bila
Ibu meninggal, Ibu ingin anak-anak Ibu yang memandikan. Ibu ingin
dimandikan sambil dipangku kalian”. Tak hanya itu, imam shalat
jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “Agar tak percuma Ibu
mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.
Duh Ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana
mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil Ibu telah
mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya,
sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: Cinta. Sekolah yang
hanya punya satu guru: Pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya
diberi satu nama: Yang Dicinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar