Jumat, 07 Mei 2010

Kesabaran Mendekatkan Diri Ke Pintu Sorga

MUKADIMAH

Segala puji bagi Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat atas seluruh hamba-Nya, dan Maha Sucilah Dzat yang telah menjadikan gugusan bintang-bintang dan di langit dan menjadikan pula matahari dan bulan nan benderang.
Dan Dia-lah yang telah menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang mau memikirkan atau mau bersyukur. Dan Maha suci Dzat yang telah menurunkan kitab Pembeda antara yang benar dan yang salah kepada hamba-Nya agar menjadi peringatan bagi seluruh alam. Dialah yang memiliki kerajaan seluruh langit dan bumi. Dia tidak mengangkat seorang pun putera, tidak bersekutu dengan kerajaan-Nya, dan Dia-lah pula yang telah menciptakan segala sesuatu lalu menentukan takdirnya.
Ya Allah, bagi-Mu segala puji atas segala kebaikan dari yang kami katakana, di atas yang kami katakana dan sebagaimana yang kami katakana. Bagi-Mu segala puji atas iman yang Kau anugerahkan, atas islam yang Kau ajarkan, dank arena Muhammad SAW adalah Rasulullah. Maka perkasa kemuliaan-Mu, Maha Agung pujian-Mu, Maha Suci nama-nama-Mu, dan tiada Tuhan selain-Mu. Bagi-Mu segala puji sampai Engkau ridha, dan bila Engkau telah ridha, maka segala puji bagi-Mu pula.
Ya Allah, limpahkanlah kepada Nabi-Mu segala rahmat sebagai hadiah penghormatan, dan segala nikmat sebagai kemurahan-Mu, karena beliau adalah lidah kebenaran yang merambatkan wahyu dengan sebaik-baik ungkapan. Beliaulah telinga kebaikan yang menerima wahyu lalu mendengarkannya dengan isyarat paling halus. Limpahkanlah juga kepada segenap keluarga dan sahabat beliau, dan curahkanlah pula kesejahteraan yang tiada taranya kepada seluruhnya.
Kemudian: Salamullahi ‘alaikum wa rahmatuhu wa rahmatullahi wabarakatuh.
Sungguh saya telah berterimakasih kepada lembaga Dakwah yang dipimpin yang Mulia Syaekh Muhammad Ash-Shalih Bin ‘Utasaimin. Dan dalam pertemuan ini, perkenankanlah saya menyampaikan beberapa bait puisi di hadapan para hadirin sebagai pelengkap dari ceramah kemarin malam:
Katakanlah kepada angina bila berhembus pada dini hari,
Hormatilah orang yang lemah dan peluklah setiap orang yang dalam kelemahan.
Dan tulislah di bumi mereka dengan air mata peperangan, karena kasih sayang, janganlah melupakan malam-malamnya. Bumi yang di sana terdapat ilmu, hidup pandai lagi mengetik dengan piala dari Al-Qur’an, para penghuninya.
‘Aqidah yang dihisap waktu kanak-kanak mereka, yang terjamin kesahihan sanad dan sandarannya, dan kebenaran yang diriwayatkan, tidak tertandingi oleh pendapat Sokrates dan kelompoknya, dan tidak terbebas ibnu Sina dalam segala kenyataannya,
dan Ibnu Taimiyah di bumi mereka memiliki ilmu, dari hadiyah yang menjadikannya unggul di dataran tingginya.

Bila Buraidah dengan segala kebaikannya berbangga, cukuplah pimpinan Syekh untuk berbangga dengan majelisnya,

Muhammad Ash-Shalih yang terpuji yang dikaji, oleh orang yang cemerlang pemahamannya, sedangkan dunia mengabaikannya, di persembahkan penghormatan bagi beliau dalam sanjak yang say abaca,

Laksana kerinduan yang dikandung para penghadiahnya, mengalirlah kegembiraanbeliau dengan kebenaran, hingga menyalakan seberkas cahaya. Lalu, bersoleklah dunia petunjuk di segala seginya.

Topik kita adalah kesabaran Para Wali Saat Mendapat Ujian. Topik ini menyatukan dan memusatkan seluruh hamba pada fitrah yang diberikan Allah SWT saat menciptakan makhluk. Fitrah tersebut yaitu sabar dan keluh kesah, bersyukur dan ingkar.
“Sudahkah datang kepada manusia suatu ketika dari masa, yang dia belum merupakan sesuatu yang pantas disebut? Sesungguhnya Aku telah menciptakan manusia dari setitik mani (sperma) yang bercampur. Untuk Aku uji dia, lalu kujadikan dia mendengar lagi melihat. Sesungguhnya Aku telah menunjukinya pada satu jalan (yang benar) baik dia mau bersyukur atau pun dia ingkar.” (Ad-Dhar: 1-3)

TINGKATAN SABAR

Sabar menurut ahli sunnah wal jama'ah adalah salah satu peringkat ‘udubiyah’ yang paling agung, sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Quran hingga sembilan puluh tepat lebih. Di dalamnya banyak berisi berbagai pujian terhadap orang-orang yang sabar dan beberapa celaan terhadap orang-orang yang tidak bisa sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT.
Selain itu, di dalamnya juga dijelaskan mengenai pahala yang didapatkan seseorang dari kesabarannya serta beberapa tingkatan sabar itu sendiri. Di dalam ajaran islam, sabar dapat dibagi menjadi 3, yakni:
1. Sabar atas perbuatan ta’at.
2. Sabar dari perbuatan maksiat.
3. Sabar dari berbagai takdir dan musibah.
Adapun di dalam tiga tingkatan sabar ini, yang paling agung dan mulia di sisi Allah adalah sabar dalam menjalani ketaatan, meskipun masih terjadi perbedaan pendapat, namun hal ini sudah menjadi kecenderungan jiwa, untuk menjalankan kewajiban sebagi makhluk allah yang taqwa.
Kesabaran agung ini adalah kesabaran yang dituntut ketika melaksanakan semua perintah-Nya sebagai suatu ketaatan, dan sabar dalam menahan hawa nafsu untuk melaksanakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, khusyuk, dengan hati yang tunduk.
Sementara itu, sabar dari perbuatan maksiat adalah ketika kita menahan hawa nafsu untuk berbuat buruk, dan bersabar mengharap ridho Allah SWT. Sedangkan sabar atas berbagai takdir Allah, adalah ketika kita memerima takdir baik dan buruk dari Allah untuuk meningkatkan derajat keimanan kita di sisinaya.
Jika persoalan ini telah diketahui, sungguh para wali Allah telah memiliki keunggulan kesabaran dan keyakinan yang luar biasa atas kekuasaan-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang cara memperoleh suatu kepemimpinan dalam agama. Maka bliau menjawab: “Dengan kesabaran dan keyakinan” yang sesuai dengan firaman Allah:
“Dan telah kujadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah-Ku ketika mereka telah bersabar dan kepada ayat-ayat-Ku selalu yakin.” (As-Sajadah: 24)”
Dalam kehidupan ini, para hamba Allah yang shalih telah diuji dengan berbagai musibah, mulai dari kekurangan harta benda, ada juga yang diuji dengan hilangnya akal pikiran yang membuat seseorang jadi bingung, sinting atau bahkan gila, ada yang ditimpa musibah hingga kehilangan panca indera atau anggota badan lainnya, diuji dengan anak-anaknya, baik itu karena mati, hilang atau pergi tak kembali, atau bahkan diuji dengan berbagai fitnah atas kehormatannya. Namun sebagai hamba yang salih, mereka tetap mampu untuk sabar dan senantiasa mengharap ridha Allah SWT.
Allah SWT senantiasa lemah-lembut terhadap takdir yang ditimpakan sebagai suatu keputusan atas hamba-Nya. Maka tidak ada puilihan lain bagi seorang hamba, selain harus tunduk dan sabar menerima takdir-Nya.
Dalam buku ini akan dijelaskan lebih jauh mengenai berbagai macam bentuk kesabaran yang dicontohkan oleh As-Salafu Ash-Shalih yang disebutkan oleh Ash-Syathibi dalam Al-Muwafaqat Lit-Tabwiib Wat-Tartiib.
Sebenarnya Allah telah menceritakan beberapa kisah mengenai orang-orang yang sabar. Dan Allah telah memuji mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 153.
“Hai Orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan solat, sesungguhnya Allah itu menyertai orang-orang yang sabar!”

Dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman:
“Janganlah kalian telah mati orang-orang yang terbunuh pada jalan allah itu bahkan mereka itu tetap hidup tetapi kalian tidak menyadari” (Al-Baqarah: 154)

Kemudian Firman-Nya yang menjelaskan mengenai kesabaran dalam menghadapi cobaan, diterangkan bahwa:
“Demi sesungguhnya akan aku uji kalian dengan suatu cobaan,. Yaitu berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan baik harta, jiwa maupun buah-buahan, maka gembirakanlah orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Sedangkan mengenai siapa orang yang sabar juga dijelaskan dalam firman-Nya, bahwa orang yang sabar adalah:
“Orang-orang yang apabila menimpa mereka suatu musibah mereka berkata: sesungguhnya kami ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kami ini kepada-Nya akan kembali”. Segala rahmat dari Tuhan mereka dan juga kasih sayang,. Dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-Baqarah: 157)

Berbicara mengenai sabar, para ahli dari berbagai disiplin ilmu ternyata memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai definisi dari sabar itu sendiri.
Salah seorang di antara mereka mengatakan, bahwa sabar itu apabila seseorang ditimpa musibah, namun tetap tersenyum karena merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT melalui keputusan dan ketetapan-Nya.
Pendapat lain menyatakan, bahwa sabar itu adalah merasa ridha dengan apa yang menjadi ketetapan Allah SWT yang ditimpakan kepadamu. Oleh karena itu, yang paling dicintai Allah adalah yang paliang anda cintai.
“Apabila menyenangkan kalian yang dikatakan oleh orang yang dengki kepada kita, maka luka tidak mendatangkan sakit bila memuaskan kalian.

Pendapat lain mengatakan bahwa, sabar adalah ketika kita lebih mengharapkan pahala dari Allah SWT daripada kesehatan yang lepas dari kita.
Hal ini bisa dimaklumi karena Allah SWT dalam kitabnya secara tegas berfirman bahwa:
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa perhitungan. “ (Az-Zumar: 10)

Dan dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman bersabarlah dan saling menyabarkanlah, bersiap-siagalah dan bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kalian mendapat kemenangan!” (Ali’Imran: 211)

Ujian dari Allah yang menimpa hambanya memiliki beberapa tujauan, yang antara lain:
1. Untuk meningkatkan derajat manusia di akherat kelak.
2. Untuk pendidikan, karena dengan ujian yang diberikan oleh Allah SWT, hati kita akan menjadi bersih dan terbukti kita memiliki kesungguhan untuk Allah SWT.
3. Untuk melakukan ibadah dengan mengabdi kepada-Nya. Hal ini diberikan Allah SWT untuk menguji sejauhmana para hambanya yang solih mengabdi dengan menjalankan 2ketaatan atas segala perintah-Nya.
Diantara manfaat ujian yang paling besar adalah tercapainya derajat pengabdian. Maka dari itu, apabila kita sedang diuji maka hendaklah bersabar , karena ujian yang ditetapkan tersebut merupakan nikmat dari Allah yang ditentukan atas dirimu.
4. Untuk mendapatkan pahala di sisi-Nya. Allah tidak akan pernah menyia-nyiakak hambanya yang bersabar dalam menghadapi cobaan, dengan memberikan pahala yang sesuai atas apa yang diusahakannya. Oleh karena itu janganlah pernah kita meragukan atas pahala yang dijajikan Allah kelak atas kesabaran yang kita lakukan.

“Maka ikatlah kedua tanganmu dengan tali Allah untuk menyandarkan diri, karena sesungguhnya. Dia adalah handalan kalau telah menghianatimu seluruh handalan!”

Menurut para ahli ilmu, apabila keempat hal tersebut sudah diyakini, maka itu akan memperinga2n ujian yang sedang kita hadapi. Dan hal itu telah disebutkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab bliau Zadul Ma’ad. Dalam kitab itu berisi:
Pertama: hendaklah kita beriman kepada qadla’ dan qadar atau keputusan dan ketentuan Allah. Dalam kitab Ash-sahih, Ibnu ‘Umar berkata, ketika dibicarakan bahwa ada suatu kaum di ‘Iraq tidak beriman kepada qada’ dan qadar, dengan lafaznya bliau bersumpah: “Demi zat yang jiwaku di tangan-Nya, sekiranya bukit Uhud berupa emas tidaklah diterima amal dari mereka sehingga beriman kepada qadla’ dan qadar.” Dan dalam suatu hadist sahih dari ‘Ubadah bin Shamit bahwa bliau berkata kepada anaknya ketika ajal menjemput:
“Hai anakku, wajib atasmu beriman kepada qada’ dan qadar, karena demi zat yang jiwaku di tangan-Nya kalau engkau tidak beriman kepada qada’ dan qadar tidaklah bermanfaat bagimu amalanmu selama-lamanya!”

Dan dalam Sunan At-Turmudzi dengan sanad hasan dari Ibnu ‘Abbas, dari hadistnya yang panjang beliau berkata: “Adalah aku membonceng Raasulullah SAW, maka bliau bersabda:

“Hai anak, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kata: jagalah (hukum) Allah tentu Dia akan menjagamu! Jagalah (hukum) Allah tentu kau dapatkan Dia di depanmu. Kenalah Allah dalam waktu lapang tentu Dia memperhatikanmu dalam waktu sempit!” kemudian bliau bersabda: “Dan ketahuilah bahwa pertolongan (Allah) itu mengiringi kesabaran!”

Sebelumnya beliau Rasulullah SAW juga bersabda:
“Dan ketahuilah bahwa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan yang luput darimu tidak akan menimpamu!”

Dari hadtis di atas, maka yang pertama kali meringankan beban ujian dan musibah adalah keimanan kita terhadap qada’ dan qadar dari Allah SWT. Jadi barang siapa tidak beriman kepada qada’ dan qadar maka Allah SWT tidak akan merubah nasibnya, tidak menerima tebusan darinya, tidak mendengrkan kata-katanya dan tidak menerima sembelihan kurban darinya dan dia akan mendapatkan siksaan yang amat pedih.
Kedua: Meyakini bahwa musibah yang kita dapatkan dari Allah jauh lebih sedikit daripada nikmat yang di berikan Allah SWT kepada kita:
“Yang ada pada kalian akan habis dan yang ada di sisi Allah adalah abadi.” (An-Nahl: 96)

Allah menimpakan sakit, kesusahan, kesedihan dan duka kepada hambanya, karena denagan ujian itu maka Allah telah menghapus dosa-dosa yang ada pada diri hambanya dan itu menjadi bukti kasih saying Allah buat hamba-hambanya.
Ketiga: Menghibur diri dengan keadaan orang lain yang tertimpa musibah atau ujian lebih besar daripada kita. Dalam sebuah riwayat, ketika di sebuah lembah banyak Banu Sa’ad, merekapun berkata kepada Al-Khansa: “Bagaimana engkau dapat mengucapkan kata-kata ratapan yang terkenal itu?” Dia menjawab”Saya menghibur diri dengan orang-orang yang kematian anak di sekitarku.” Kemudian dia berkata:
“Katakanlah tidak banyak orang-orang yang menangis di sekitarku, atas kematian saudara-saudara mereka tentulah kubunuh diriku.”
Dari kisah ini dapat diambil kesimpulan, bahwa apabila kita tertimpa musibah, kita dapat menghibur diri kita untuk melupakan kesedihan itu, dengan cara mengingat beberapa musibah orang lain yang lebih besar, dengan demikian kita akan lebih sabar, karena kita sadar bahwa musibah yang kita alami belum ada apa-apanya atau jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan musibah yang menimpa orang lain.
Di antara musibah-musibah yang menimpa hamba Allah, musibah yang paling besar adalah musibah mengenai urusan agama. Musibah ini tak ada penyelamat, penghibur atau bela-sungkawa. Maka celakalah bagi orang yang tertimpa musibah agama, karena secara tidak sadar mereka kehilangan Allah yang berarti kehilangan segala-galanya. Oleh karena itu, bersyukurlah kepada Allah saat kita ditimpa musibah baik itu kehilangan panca indera atau jasmani, kehilangan anak, harta benda ataupun kehilangan kehormatan. Yang terpenting kita jangan sampai kehilangan keimanan terhadap agama kita.
Untuk menguatkan iman kita, perhatikanlah kisah-kisah as-salafu shalih yang penuh pesona yang memiliki kelapangan dada yang jernih. Kisah-kisah itu dipaparkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran dan dikemukakan oleh Rosulullah dalam As-Sunnah. Salah satu firman Allah SWT mengisahkan tentang nabi Ayyub yang tertimpa bala:
“Tuhanku, sesungguhnya takkan menyentuhku bencana sedangkan Engkau adalah l;ebih pengasih dari pada semua yang pengasih!” (Al-Anbiya’: 83)

Dalam kisahnya bliau ditimpa sakit selama delapan belas tahun tanpa reda. Selama itu pula bliau tidak pernah merasakan kenikmatan sedikitpun, baik itu kenikmatan saat makan, kesegaran saat minum ataupun kenikmatan saat istirahat. Namun setealah delapan belas tahun bliau akhirnya kembali ke rumah, istri bliau menanyakan pertanyaan yang selama ini dipendamnya, istri bliau berkata: “Kenapa anda tidak mengadu kepada Allah SWT? Kenapa tidak mengemukakan do’a dan pengaduan anda kepada Yang Maha Tunggal? Bukankah Dia adalah Maha Menyikap Bencana?”
“Bahkan siapakah yang memperkenankan do’a orang yang terjepit bila dia berdo’a. dan (siapakah) yang menghilangkan bencana buruk?” (An-Naml: 62)

Bliau menjawab: “Tidak, demi Allah aku tidak berdo’a kepada-Nya sampai sama antara hari-hari sehatku dengan hari-hari penderitaanku.” Karena sebenarnya hari-hari sehat itu tidak pernah dihitung bagi kebanyakan manusia. Kita diberi kebahagiaan begitu banyak dan kita diberi nikmat selama bertahun-tahun. Tetapi ternyata di saat kita diberi ujian sebentar saja, kita menghitung-hitungnya. Padahal dikala kita sedang sehat dan lapang kita tak pernah menghitung lamanya.
Oleh sebab itulah nabi Ayyub a.s enggan untuk berdo’a kepada Allah. Dan kalaupun bliau berdo’a, bliau tidak mau jujur untuk meminta kesembuhan kepada Allah SWT. Dalam berdo’a bliau begitu sopan, seperti:
“Hai tuhanku, sungguh saya telah tersentuh bencana, sedangkan engkau adalah lebih penyayang dari pada orang-orang yanmg penyayang!” .
Ya Allah saya sakit karena-Mu dan ditangan-Mulah obatnya, maka kalau engkau pandang bahwa saya telah mencapai keadaan yang Engkau ridhai menjadi sehat, sehatkanlah saya! Ya Tuhanku, do’a yang paling saya cintai ialah do’a yang Engkau cintai, dan persoalan yang paling saya cintai adalah persoalan yang paling Engkau cintai!.
Abubakar Ash-Shidiq, berdo’a semoga Allah meridhai bliau, dengan segala kejujurannya, yang tidak mencintai dunia dan khalifah islam. Saat bliau sakit begitu banyak yang memperhatikan bliau dengan menjenguk bliau. Lalu mereka menanyakan: “Sakit apa yang menimpa tuan?” Subhanallah bliau menjawab: “Allah lebih mengetahui tentang apa yang menimpa saya.” Mereka kembali berkata: “Tiadaklah kita perlu memanggil seorang tabib (dokter)?” Kemudiuan bliau kembali menjawab: “Tabib itu telah melihat saya.” Mereka berkata: “Apa yang dikatakan tabib itu kepada tuan?” Bliau menjawab: “Tabib itu berkata: “Sungguh aku mampu berbuat apapun yang aku kehendaki. “Perkataan bliau ini masih dipertanyakan oleh sebagian ahli puisi dikarenakan:
“Bagaimana aku mengadu kepada seorang tabib tentang yang menimpaku, sedangkan yang menimpakan musibah kepadaku adalah seorang tabib?”
Dalam kisah lain, juga diceritakan bahwa, tatkala Ibnu Taimiyah sakit bliau juga dikunjungi oleh banyak orang. Para pengunjung tersebut bertanya: “hai bapak si Abbas, sakit apakah yang menimpa tuan?” Bliau terdiam sejenaka, kemudian mengangkat kepalanya seraya berkata:
“Akan mati jiwa-jiwa itu karena sakit berkesinambungan, dan tidaklah akan tahu para pengunjungnya apa yang menimpanya. Dan tidaklah menempuh separuh jalan lalu mengadukan deritanya selain pada kekasihnya.”
Pelajaran mengenai kesabaran juga diperlihatkan oleh Nabi Ya’qub a.s. Di dalam firman Allah bliau pernah mengungkapkan suatu perkataan yang begitu bagus, yaitu:
“Maka kesabaran yang baiklah bagiku, sedangkan Allah sajalah tempat memohon pertolongan atas segala yang kalian katakana!” (Yusuf: 18)
Kemudian bliau kembali berkata:
“Sesungguhnya aku mengadukan derita beratku dan kesedihan hatiku hanya kepada Allah.” (Yusuf: 86)

Sebagai hambanya hendaknya hanya kepada Allahlah kita mengadukan segala cobaan, penderitaan, dan musibah yang menimpa kita, karena Allahlah yang maha bijaksana dan tempat kita mengadu.
Jadi semua cobaan yang menimpa kita, baik itu pnyakit maupun cobaan yang lain, sesungguhnya merupakan takdir dari Allah SWT yang ditimpakan oleh Allah pada setiap hambanya. Dan Allah maha mengetahui tentang apa-apa yang terjadi pada hambanya.
Ath-Thabrani dan Sanad pernah meriwayatkan, bahwa Rosulullah SAW bersabda: Allah SWT berfirman:
“Sesunggunhnya aku lebih mengetahui tentang hamba-hamba-Ku dari pada para hamba-Ku, siapa yang kalau kuuji dia tidak dapat dan tidak sabar, dan diantara mereka kalau kuberi kesehatan tidak bersyukur, maka kuatur pada hamba-Ku bagaiamana kehendak-Ku.”

Allah SWT juga pernah menguji Nabi Ayyub dengan sakit, lalu bliau berkata: “Tuhanku sungguh aku telah tersentuh bencana, sedangkan Engkau adalah lebih penyayang daripada semua yang penyayang.” (Al-Anbiya’: 83)

Sahabat Nabi pilihan Imran bin Husain Ibnu ‘Ubaid AL-Khuza’i, juga pernah diuji oleh Allah SWT dengan sakit yang berkepanjangan. Sealama tiga puluh tahun bliau tidak mampu beranjak dari temapat tidurnya. Ada orang salih yang poernah berkata padanya, bliau berkata: “Kiranya lebih baik kalau anda mengadukan deritamu pada Allah.” Dia menjawab: “Yang paling dicintai Allah yang paling saya cintai. Bila Allah meridhai sakit ini, maka sayapun merelakannya.”
Lantas Hafizah (Ibnu Hajar) berkata: “Maka turunlah para malaikat untuk berjabat tanagan pada setiap fajar.” Subhanallah ini merupakan suatu karamah yang luar biasa. Atas seizin Allah bliau mampu bersabar dengan mengharap pahala dari Allah SWT. Selama tiga puluh tahun bliau mampu bersabar atas sakit yang dialaminya, dan Allah memberikan pahala yang luar biasa di dunia dan dengan berjabat tangan dengan para malaikat, serta yang lebih agung adalah pahala yang kekal di akhirat di sisi Allah SWT.
Ujian Allah yang juga berat adalah ujian akal. Akal merupakan nikmat yang paling besar setelah agama, yang tidak diberikan kepada makhluk lain selain manusia. Namun bila Allah berkehendak untuk mencabutnya kita hanya bisa menerimanya dengan pasrah, seraya mengharap ridha dan pahala-Nya.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Hai ‘Atha’, tidakkah kau suka kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga, demi ayahku, engkau dan ibuku?” Dijawabnya, “Baiklah.” Ibnu Abbas berkata: “Ada seorang wanita hitam datang kepada Rosulullah SAW lalu berkata: “Hai Rasulullah, sesungguhnya aku terkena penyakit “Usra” (yakni te2rkena sentuhan jin) tapi aku tetap bersabar. Maka do’akanlah aku kepada Allah!” Bliau bersabda:
“Kalau engkau suka, aku berdo’a kepada Allah untuk engkau, dan kalau engkau suka, bersabarlah dan engkau kelak mendapatkan surga!”
Pilihan yang sangat bagus, betapa mulianya pilihan yang kedua itu! Kedua jawaban itu dipilih salah satu oleh Atha. Dia menjawab: “Saya pilih bersabar dan mengharap pahala dari Allah” jadi, apabila kita sabar dan pasrah terhadap ujiannya, kita akan diganjar pahala oleh Allah berupa surga yang seluas langit dan bumi.
Ujian Allah yang lain adalah kehilangan mata sebagai alat penglihatan yang begitu mulia, yang mana dengan mata itu, kita dapat melihat dan menikmati keindahan dari ciptaan Allah SWT yang begitu luar biasa. Trapi apabila Allah mengendaki untuk mencabut nikmat itu, kita harus sabar dan iklas menerimanya.
Dalam Shahihul Bukhari dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman:
“Barang siapa ku-uji dengan kedua kecintaannya maka dia sabar, tentu kuganti dia dari keduanya dengan surga.”
Sungguh begitu mulia isi hadits itu, di dalamnya “Kedua mata” tidak dikatakan secara langsung tapi dikatakan sebagai “Kedua kecintaannya” karena kedua mata ini memang seolah-olah menjadi hal yang sangat dicintai para hamba-Nya, yang terkadang lebih dicintai daripada segalanya.
Namun apabila nikmat ini dicabut oleh Allah SWT sebagai ujian bagi par hamba-Nya, maka kita harus sabar. Karena apabila kita bersabar Allah telah menyiapkan pahala yang besar dengan bahala surga idaman.
Diceritakan tentang Yazid bin Harun Al-Wa-Sithi dalam kitab Sairun A’lamin Nubala’ Wat-Ta Dzikirah Wat-Tarjamah. Dia adalah salah satu hafizh dunia yang kehilangan keduya matanya. Suatu ketika ada orang yang bertanya kepadanya: “Hai Abu Khalid, ke mana kedua mata yang jelita itu berkelana?” Dia menjawab: “Keduanya dibawa pergi, demi Allah, oleh tangis di saat-saat sahur.” Dia diuji Allah dengan kehilangan kedua matanya, tetapi Allah menggantikannya dengan surga.
Kisah lainnya adalah Ibnu Abbas yang merupakan orang yang sangat berjasa bagi umat, telah menjadi buta pada akhir hayatnya. Kemudian datanglah sekelompok orang yang suka mencaci makinya untuk bela sungkawa sambil mengolok-olok kedua matanya. Ibnu Abbas pun mengerti, dan berkata:
“Kalau Allah mengambil cahaya dari kedua mataku, maka jantung dan hatiku terpancar dari keduanya seberkas cahaya. Akalku suci cemerlang, dan hatiku tiada lancang, dan pada mulutku tampil tebasan terkenal bagaikan padang.”

Kalau Allah mengambil cahaya dari kedua matanya, sebagai gantinya adalah cahaya dari mata batin yang terpancar dari hati, dan di dalam hatinya terpancar cahaya cemerlang yang abadi. Maka dari itu tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan kecuali bersabar.
Kehilangan penglihatan/ mata juga dialami Ibnu Hurairah. Dia adalah mentri dari khalifah Al-Mustanjid Al-‘Abasi, dan Ibnul Jauzi. Waktu kanak-kanak bliau dipukul oleh sahabatnya hingga kehilangan matanya. Kejadian itu terjadi sekitar 30 tahun yang lalu. Namun yang istimewa dari kisah ini adalah bliau tidak memberitahukannya kepada siapapun dengan tetap sabar dan hanya mengadu kepada Allah SWT.
Selain daripada mata, anak juga merupakan salah satu nikmat Allah yang besar, dalam firmannya para hamba Allah senantiasa berkata:
“Dan orang-orang yuang berkata: “Ya Tuhan kami anugerahkan kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Tiada hiasan hidup yang lebih bagus dari harta dan anak-anak. Hal yang terindah adalah ketika memandang anak-anak anda tumbuh sehat, bermain riang gembira, berwajah manis, bertingkah lucu menggemaskan, serta memancarkan cahaya islam dengan senantiasa ikut mengerjakan solat dan mengulang-ulang hafalan surat dengan riang gembira. Namun apabila kebahagiaan itu harus direnggut oleh Allah melalui takdirnya kita tak kan bisa mengelak. Kita hanya bisa bersabar dan ikhlas dengan senantiasa mengharapo ridhanya.
Trsebut dalam suatu hadit’s yang diriwayatkan Bukhari, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT berfirman:
“Tidak ada pahala bagi hamba-Ku yang beriman bila Ku-ambil kecintaannya di antara penduduk dunia kemudian dia rela mengharapkan ridha-Ku kecuali surga.”
Dalam sunan At-Turmudzi dari Abu Hurairah raw a ardlaahu, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang anak dari hamba yang beriman meninggal dunia, Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat yang mengambil jiwanya (sedangkan dia telah mengetahuinya): “Kalian mengambil anak hamba-Ku yang beriman?” Mereka menjawab: “Benar, hai Tuhan kami!” Dia berfirman: Kalian renggut buah hatinya?” Mereka menjawab: “Benar, hai Tuhan kami!” Dia berfirman: “Lalu apa kata hamba-Ku itu?” Mereka menjawab: “Dia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’. Dia mengucapkan: Segala puji bagi Allah, sesungguhnya kita ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kita ini kepada-Nya kembali!” Dia bertitah: “ Bangunlah untuk hamba-Ku ituu sebuah mahligai di surga, dan berilah nama baitul hamdi!” Hadits ini Hasan.

Ujian ini adalah kehendak dari Allah SWT. Dan orang yang soleh akan senantiasa bersabar dengan mengharapkan pahala dari Allah karena musibah yang menimpa anaknya, terutrama bagi seorang ibu yang memiliki ketegaran yang luar biasa. Adapun wanita muslimah, telah pula mengambil peran sebagai pria dalam menghadapi musibah. Bahkan bliau Rasulullah SAW menyebutkan kelebihan kaum wanita ketika kehilangan anak-anaknya, dan kaum pria tidak disebutkan. Dalam hadistnya bliua bersabda:
“Tidaklah salah seorang wanita di antara kalian menyerahkan kematian tiga orang anak kecuali mereka itu akan menjadi dinding dari Neraka.” Salah seorang wanita bertanya: = Dan dua orang juga hai Rasul Allah?” bliau bersabda = “Juga dua orang”!
Dalam riwayat lain, salah seorang wanita berkata: = “Juga seorang?” bliau menjawab: = “Juga seorang!” Maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan keutamaan kematian seorang anak yang salih dengan mengharap ridha Allah berupa jaminan masuk surga yang luasnya laksana langit dan bumi dengan seizing Allah.
Banyak orang yang salih justru ditimpa musibah pada jasmaninya. Allah telah menganugrahkan kepada kita kekuatan, kehidupan, kemampuan, dan semangat, tetapi apabila itu diambil sesungguhnya Allah SWT punya hikmah yang bijaksana.
Sementara itu, para ahli ilmu, ahli sejarah, dan ahli riwayat hidup mempercayai tentang kemampuan yang luar biasa dalam upaya mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah SWT. Salah sat2unya adalah kisah dari ‘Urwah bin Az-Zubair bin Hawari. ‘Urwah merupakan salah seorang pembawa riwayat terbesar dan telah mengkhatamkan Al-Quran dalam empat hari. Ini merupakan bukti atas kekuatan ‘Urwah dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Allah SWT berkehendak untuk meningkatkan derajat ‘Urawah di sisi-Nya. Dia memberikan ujian kepada ‘Urawah saat ‘Urawah bin Az-Zubair berpergian ke Syam. Di tengah perjalanan dia terserang penyakit lepera pada kakinya. Pada saat itu pula para tabib berkumpul, namun penyakit itu semakin menyebar sampai ke betis, terus menjalar hingga akirnya sampai ke paha. Menurut para tabib, tidak ada jalan lain untuk menyembuhkan penyakit itu selain memotong kaki ‘Urawah sampai pangkal paha, karaena kalau tidak ‘Urawah akan mati. ‘Urawah pun sudah pasrah dan ikhlas seraya berkata: “Allah adalah satu-satunya tempat memohon pertolongan, sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kita ini kepada-Nya akan kembali.” Sebelum kaki ‘Urawah dipotong para tabib menyuruh ‘Urawah untuk minum segelas minuman keras untuk mengurangi rasa sakit ketika dipotong. Namun ‘Urawah menolak dan menyuruh para tabib memotong kakinya pada saat dia sedang melakukan solat, memohon pada Allah yang Maha Suci dan Maha Luhur. Bliaupun segera mengambil air wudu dan mendirikan solat. Di saat ‘Urawah sedang salat dan membaca ayas suci Al-Quran para tabibpun segera memotong kaki ‘Urawah dengan mengunakan gergaji. Darah pun mengalir dan bliau jatuh tertelungkup. Beberapa saat kemudian ‘Urawah siuman, namuan yang terjadi justru datang lagi ujian dari Allah SWT. Saat bangun dari sadar dia mendapatkan kabar bahwa anaknya diterjang kuda khalifah sampai mati. Allah memberikan musibah kepada ‘Urawah secara bertubi-tubi. Maka perhatikanlah bagaimana kasih saying Allah dan ketentuannya dalam Qadla’ dan Qadar-Nya. Kemudian apa kata ‘Urawah? Dia berkata:
“Segala puji bagi Allah, sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kita ini kepada-Nya akan kembali. Ya Allah hanya bagi-Mu segala pujian!”
Tapi perhatikanlah bagaimana ‘Urawah menghitung nikmat. Dia bersyukur memiliki anak empat hanya di ambil satu dan dia bersyukur pula memiliki empat anggota badan yang direnggut Allah SWT hanya satu. Maka hanya bagi Allah segala pujian dan hanya kepada-Nya ucapan syukur pantas terlantun. Kemudian dia berkata:
“Demi asma-Mu tidaklah kuulurkan telapak tanganku untuk yang diragukan, dan tidak membawaku ke arah yang keji kakiku, tidak menunjukkan ke sana fikiran dan penglihatanku, dan tidak menuntunku pada jalan itu fikiran dan hatiku, aku pun sadar bahwa tidak menimpaku suatu musibah, dari Allah melainkan telah menimpa pemuda sebelumku.”

Kembali dia hanya mengharapkan pahala dan ridha dari Allah SWT, karena Dialah yang telah mentakdirkan sesuatu sebagai ujian bagi hambanya. Dengan ujian itu Allah SWt telah mengangkat derajar para Nabi dan dengan itu pula Allah menghapus kesalahan orang-orang salih.
Nabi yang di angkat derajatnya oleh Allah SWT salah satunya adalah kisa nabi Ibrahim as. Allah menguji bliau dengan berbagai musibah, antara lain: Bliau pernah diuji dimasukkan ke dalam api. Pada saat itu disiapkan tumpukan kayu baker bagi bliau dengan nyala yang berkobar-kobar dan bliau diletakkan di dalamnya. Maka terputuslah semua tali tang mengikat bliau kecuali tali penghubung dengan Allah. Dan tertutup pula semua pintu, kecuali pintu pertolongan dari Allah SWT. Akan tetapi bliau tetap tawakal kepada Allah Ta’ala, yakni saat malaikat Jibril mendatangi bliau lalu berkata: “Apakah anda menghajatkan pertolonganku?’ Bliau menjawab: “Adapun kepadamu, tidak, sedang kepada Allah ya!”
Setelah bliau dilemparkan ke dalam api, bliau berkata:
“Yang mencukupi kita adalah Allah, dan Dialah sebaik-baik handalan”. (Ali-Imron: 173)
Sementara itu, dalam hadits shahihul Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Allah berfirman:
“Yang mencukupi kita adalah Allah dan Dia adalah sebaik-baik handalan, kata-kata ini diucapkan oleh nabi ibrahim as ketika dicampakkan dalam api, dan diucapkan oleh rasulullah SAW ketika diberitakan kepada bliau: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka!” lalu mereka (orang yang beriman) itu bertambah iman mereka dengan mengatakan: ‘Yang mencukupi kita adalah Allah dan Dia adalah sebaik-baik handalan’ maka kembalilah mereka dengan mendapat nikmat dan anugerah dari Allah, dan Allah itu memiliki anugerah yang agung. (Ali-Imran: 173-174)

Setelah bliau dicampakkan dalam kobaran api bliau mengingat akan keagungan Allah SWT, bahwa tidak ada pemelihara keselamatan selain Allah. Mukzizat Allah telah diturunkan kepada Nabi Ibrahim, setelah jatuh dari api datanglah pertolongan dari Allah, lalu Allah SWT berfirman:
“Hai api dinginlah dan keselamatan atas Ibrahim!” (Al-Anbiya’: 69)
Sekiranya saat itu Allah hanya berfirman: “Dinginlah!” lalu diam, tentu akan menjadi sangat dingin membeku dan menghimpit tubuh bliau. Akan tetapi Allah berfirman: “Dan keselamatan…” jadi selamatlah bliau dari kobaran api tanpa kurang suatu apapun.
Ujian yang diterima Nabi Ibrahim tidak hanya sampai di situ saja, di lain kesempatan Allah menguji bliau dengan putra bliau yang masim muda belia, yakni Ismail. Ujian itu datang disaat Ismail baru dapat berlari setelah melewati masa merangkak dan berjalan, tentu itu merupakan kegembiraan yang luar biasa bagi kedua orang tua, yang disambut dengan penuh suka- cita. Usia Ismail pada saat itu merupakan usia yang mempesona, karena apabila lebih besar maka akan berkurang rasa kecintaan terhadap dirinya. Namun Allah maha berkehendak. Dan Allah berkehendak ingin mengosongkan hati Ibrahim agar hanya mencintai Allah saja.
Bliau adalah Nabi yang disebut Al-khalil (kekasih Allah), karena yang paling dia cintai adalah Allah SWT. Ketika anaknya mulai bisa berlari-lari kecil Allah mengujinya. Ibrahim melihat dalam mimpi, dan mimpi para Nabi itu adalah benar. Di dalam firman Allah, Nabi Ibrahim berkata: “Sesungguhnya saya melihat dalam tidur bahwa saya menyembelihmu.” (Ash-shaffat: 102)
Lalu Ismail berkata: “Lakukanlah yang diperintahkan kepada ayah, ayah akan menjumpaiku, Insya Allah, dari orang-orang yang sabar!” (As-Shaffat: 102)

Alangkah bagusnya kerendahan hati dan keikhlasan Ismail saat ayahnya mau menyembelihnya seperti dalam petunjuk mimpi, Ismail begitu ikhlas dan sabar menerima itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya ini adalah benar-benar ujian yang besar.” (Ash-shaffat: 106)

Dan tak ada ujian yang lebih besar dari itu, karena dia belum pernah mengalami ujian seperti ini sebelumnya.
Anak yang sangat lucu, mempesona, dimana saat dia beranjak mulai berlari-lari kecil, dan dia juga anak yang salih. Akan tetapi disaat kebahagiaan itu, Allah menyuruh menyembelihnya sendiri. Dan perintah itu menyuruh Nabi Ibrahim untuk mengambil pisau dan menyembelihnya dengan tangannya sendiri tanpa melelui perantara orang lain, sungguh suatu dilemma yang sangat memilukan dan ujian yang sangat berat. Namun Ibrahim pun melaksanakannya. Dengan ujian ini, maka Allah meningkatkan derajat bliau dan menempatkan bliau sebagai orang yang benar, sebagi salah seorang yang berbuat kebaikan, dan semua orang akan memuji bliau sepanjang masa. Allah telah membalas bliau dengan lebih baik dengan kebaikan, pahala, dan anugerah.
Allah SWT juga menyebut pula orang yang diuji dalam kemelut dan kesedihan. Dia adalah Nabi Yunus a.s. dia pergi meninggalkan negerinya karena marah kepada kaumnya tanpa izin terlebih dahulu kepada Allah. Dia pergi menggunakan prahu. Setelah dia dicampakkan dalam prahu, dia berada di dalam tiga kegelapan, yakni kegelapan malam, kegelapan lautan, dan kegelapan di perut ikan. Tidak ada yang diingat Nabi Yunus saat itu selain ingat kepada Allah SWT, dalam gelap gulita itu dia berkata:
“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah salah satu dari orang-orang yang Zalim.” (Al- Anbiya’: 87)

Bila anda berseru dan mengakui maknanya, Allah menyikap duka- cita, kesedihan dan kesusahan anda, serta menganugrahi anda rejeki yang tidak disangka dari mana datangnya. Dan balasan bagi orang-orang yang sabar di sisi Allah adalah pahala dan hadiah.
Lalu bagimana Allah menyelamatkan bliau dari kegelapan, Allah berfirman:
“Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih memaha sucikan Allah, niscaya dia akan tetap tinggal dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” (Ash-Shaffat: 143-144)

Sedangkan Nabi Ya’qub a.s juga ditimpa musibah, dan ajaib sekali bahwa musibah-musibah yang ditampilkan dalam Al-Quran ternyata memiliki satu cara yang sama, tetapi Allah membagi-bagikan musibah dan nikmat dalam bermacam-macam bentuk dan beragam bagi manusia. Sesungguhnya di balik musibah itu terdapat hikmah yang dalam.
Nabi Ya’qub a.s tidaklah diuji dengan kesesatan putra bliau sebagaimana Nabi Nuh a.s dan tidak diuji untuk menyembelih putra bliau sebagaimana ujian Nabi Ibrahim a.s. tetapi bliau diuji dengan kehilangan putra bliau tercinta, Yusuf a.s yang pergi dan tak bliau ketahui kemana perginya. Maka bliau selalu mengulang-ulang kaliamat:
“Maka kesabaran yang baiklah bagiku, dan Allah saja tempat mohon pertolongan terhadap apa yang klalian sebutkan!” (Yusuf: 18)
Nabi Yusuf a.s telah memenuhi hati bliau denagn cinta dan kasih sayang, maka setelah berjauhan dengan bliau lebih kurang empat puluh tahun:
“Kalian telah berpisah dan kami telah bercerai, maka betapa menderita tulang-tulang rusuk kita, karena duka dan rindu kepada kalian, dan betapa kering layu wajah-wajah kita, Hampir saja ketika hati nurani kita menghimbau kalian, menghabisi usia kita kesedihan dan putus harapan, sekiranya kita tidak menghibur diri.”
Bliau menangis dan menahan diri, sampai-sampai mata bliau memutih karena duka nestapa, sedangkan bliau begitu tabah dan berkata:
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesedihan dan kesusahanku.” (Yusuf: 86)

Ketika Allah mengetahui keprasahan bliau kepada-Nya, maka diangkatlah derajat bliau di sisi-Nya, karena bliau nyata termasuk orang-orang yang bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT terhadap apa yang telah menimpanya. Hal ini mengindikasikan bahwa ini merupakan suatu contoh orang yang kehilangan sesuatu yang berharga dan mahal baginya, lalu dia bersabar dengan mengharap pahala di sisi Allah SWT.
Dan Nabi Yusuf a.s telah diuji kehormatannya , berupa celaan, cacimakian, tetapi bliau tetap bersabar dan mengharap ridha dan pahala dari Allah. Diserahkanlah semua urusannya kepada-Nya, sehingga Allah SWT meninggikan derajat bliau di sisi-Nya, tingkatan yang tak tertandingi dan Allah SWT memuji bliau dengan berfirman:
“Sesungguhnya dia adalah dari golongan hamba-hamba-Ku yang terpilih.” (Yusuf: 24)

Beliau telah bersabar atas ujian yang besar ini. Sesungguhnya musibah Nabi Yusuf a.s menjadi agung karena beberapa masalah yang meninggikan bliau serta pahalanya di sisi Allah SWT. Dan di antar masalah tersebut, yaitu:
 Bahwa bliau adalah seorang pemuda dan bliau lebih mampu melakukan perbuatan keji.
 Bahwa beliau adalah orang asing, dan orang asing itu tidak mendapat celaan dan cercahan dari manusia.
 Bahwa beliau di rumah seoramg wanita yang mempunyai kekuasaan dan tak khawatir mendapat sanksi hukum dan tindakan penguasa.
 Bahwa wanita itu adalah sangat molek dan telah mengenakan busana indah, emas dan perhiasannya.

Allah mengangkat derajat bagi hamba yang bersabar dalam menghadapi segala macam ujian. Orang yang sabar memandang semua itu merupakan qadha’ dan qadar dari Allah SWT.
Di antara ujian itu adalah ujian kehormatan yang ditipakan kepada hamba Allah yang salih. Dalam sejarah islam, dikisahkan bahwa ujian kedustaan telah dialami oleh pribadi Aisah. Kisah itu diriwayatkan oleh Al-Bukhari tentang perang Al-Muraisi’.
Pada saat perang itu berlangsung, kebetulan Aisyah mendapat giliran untuk mendampingi Rasulullah SAW, lalu ketika rombongan Rasulullah pulang dari perang Aisyah turun pada suatu tempat untuk mencari kalungnya yang hilang. Namun rombongan itu tetap jalan terus karena tidak sadar kalau mereka telah kehilangan Aisyah ibu kaum mu’minin yang suci, putri jujur dari orang suci Abubakar Ash-Shidiq. Mereka menyangka Aisyah masih ada dalam haudaj (rumah-rumahan kecil pada punggung onta). Maka merekapun terus berlalu, sampai malam yang gelap gulitapun tiba dan putri tidak menemui seorangpun di tempat itu. Di tengah ketakutannya putrid menutup diri dan berkata:
“Yaitu orang-orang yang apabila suatu musibah menimpa mereka mengucaplah mereka: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kita ini kepada-Nya akan kembali.” (Al- Baqarah: 156)

Dalam gelap gulita itu, kemudian datanglah salah seorang di antara orang shalih yang berjihad menghampiri wanita yang menutup diri itu (Aisyah), dan kemudian menyuruh Aisyah untuk naik kepunggung onta, lalu lelaki itu menuntunnya. Pada saat para sahabat berhenti di tengah jalan, pada saat itu pula Shafwan datang membawa onta yang di atasnya terdapat Aisyah. Kemudian Allah berfirman:
“Adapun orang-orang yang beriman maka keadaan itu menambah keimanan mereka”… (At-Taubah: 124)
Melihat kejadian itu, mereka meyakini benar bahwa beliau adalah suci, dan bliau bebas dari tuduhan mereka. Beliau adalah orang yang mulia, jujur, dan benar. Namun di antara mereka ada orang-orang yang dalam hati mereka terdapat penyakit, maka kemunafikan mucul dalam hati mereka dan membangkitkan keraguan dalam jiwa mereka. Pada akhirnya mereka memfitnah Aisyah dengan menyebarkan berita bohong yang di buat-buat bahwa Aisyah berbuat tidak senonoh dengan lelaki yang mengantarnya tempo hari.
Saat itu Rasulullah belum mengetahui berita itu. Dan saat tiba di Madinah Aisyahpun sakit, akan tetapi Aisyah tidak mendapatkan kelembutan dan kasih sayang dari Rasulullah seperti biasanya ketika beliau sakit. Hal ini dikarenakan berita bohong itu sudah sampai kepada Rasulullah SAW. Rasulullah hanya sesekali bertanya bagaimana keadaanmu, itu saja tidak lebih. Hal ini mengakibatkan Aisayah curiga kepada bliau karena saat itu Aisyah tidak lagi mendapatkan kasih sayang dan kelemutan dari Rasulullah SAW. Akhirnya Aisyahpun minta izin kepada beliau untuk tinggal kepada kedua orangtuanya ketika sakit, dan beliaupun mengizinkannya.
Aisyahpun pindah dengan mengidap penyakit, tetapi tidak mengerti bahwa kemuliaannya sedang tertimpa fitnah, yang melebihi kenikmatan yang pernah dimiliki manusia.
Tentu kebanyakan dari manusia lebih suka kehilangan kesenangan atau hal lainnya dari pada harus menderita fitnah di dunia ini. semenjak kejadian itu hamper sebulan penuh beliau Rasulullah SAW ditimpa musibah kehormatan. Kerasulan, missi dan prinsip-prinsip beliau dalam berdakwah kini diragukan, yang mana bagi orang-orang munafik ini merupakan celaan dan cercaan yang mencoreng nama baik Rasulullah SAW, yang diakibatkan fitnah yang menimpa istri beliau. Semenjak itu, bagaimana beliau dapat tangguh di medan dakwah dalam menjalankan missi kerasulannya, sedangkan diri beliau tercemar dan diragukan tentang kemuliaannya.
Anehnya dengan takdir Allah selama itu pula wahyu Allah tidak diturunkan. Jadi baik Rasul maupun para sahabat tidak mengetahui pasti siapa yang berdusta dan siapa yang benar. Bahkan sampai sebulan penuh wahyu tetap saja tidak diturunkan, sedangkan malaikat Jibrilpun juga tak kunjung datang untuk diajak berdiskusi mengenai pemecahan masalah itu. Di satu sisi beliau mendengar bahwa istrinya berbuat tak senonoh. Sedangkan beliau yakin bahwa istrinya adalah orany yang jujur, dan baik. Akan tetapi, beliau tak punya alasan yang kuat serta bukti-bukti yang mendukung untuk melenyapkan tuduhan itu.
Rasulullah SAWpun mencoba menyelesaikan masalah itu dengan bertanya pada famili dekat, yang pertama adalah Ali. Saat ditanya mengenai pandangan Ali mengenai istri beliau. Ali menjawab: “Wanita selainnya banyak wahai Rasulullah!” seakan-akan menyruh Rasulullah untuk mengawini wanita yang lain. Kemudian beliau pergi ke Usamah, saat ditanya Rasulullah mengenai istrinya Usama berkata: “Hai Rasul Allah, istri tuan tidak pernah kita ketahui tentangnya selain kebaikan!” untuk memastikannya akhirnya beliau pergi menemui budak perempuan beliau yang bernama Barirah. Beliau berdiskusi dengannya, kemudian Rasul bertanya: “Bagaimana pandanganmu selama melayani Aisyah?” Dia menjawab: “Tidak ku ketahui selain beliau adalah baik, suka berpuasa sunnah, bangun solat malam dan suka beribadah.
Rasulullah SAW sampai saat itu tridak keluar untuk memecahkan masalah yang meragukan dan meniumpa Aisyah ini. kemudian seorang teman wanita Aisyah mengatakan kepada Rasul kalau Aisyah dituduh, sehingga berkatalah beliau: “Maka tertelungkuplah saya pada wajah saya, sakit saya bertambah parah dan kesedihan saya bertambah pedih, demi Allah tak dapa saya tidur lelap, demi Allah saya benar-benar menangis sampai saya mengira bahwa tangis saya telah merong-rong hati saya atau melubangi sela-sela iga saya.” Kemudian Rasulullah SAW memasuki kamar Aisyah dan bersabda: “Hai Aisyah, kalau engkau telah terlanjur berbuat dosa maka bertaubatlah kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya!”
Beliau Rasulullah SAW masih gundah, bingung dan sampai saat itu beliau belum yakin kalau Aisyah bersih dari tuduhan itu. Namun Aisyah terus bersabar dan berusaha menjelaskan apa ayang terjadi sebenarnya. Dia berkata: “Perumpamaan saya dan kalian tak lain seperti kata ayah Yusuf: “Maka kesabaran yang baiklah bagi saya, dan Allah saja tempat mohon pertolongan atas yang kalian katakana!” namun beliau tetap tertegun di tempat beliau sehingga datang wahyu, lalu beliau tertidur, lalu kemudian terbangun, serta tiba-tiba beliau membaca ayat-ayat itu, yakni:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian mengira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan baik bagi kalian!” (An-Nur:11)

Maka Allah mengangkat derajat beliau ke tempat yang paling mulia dan agung. Dan Allah juga menghapuskan keburukan-keburukan atau dosa-dosanya atas kesabarannya dalam menerima ujian kehormatan dari Allah dengan senantiasa mengharap ridha dan pahala dari Allah SWT. Dan beliau Rasulullah SAW menjatuhkan hukuman cambuk atas orang-orang yang menyioarkan berita bohong tersebut.
Nabi Muhamad SAW telah diuji dengan segenap pendakian, dalam perjuangan menegakkan syariat islam. Diuji dengan peperangan beliau mampu bersabar dan mengharap ridha Allah. Putera beliau meninggal dunia selagi berusia dua tahun.
Annas radhiyallahu’anhu berkata: “Saya pergi bersama Rasulullah SAW lalu diserahkan kepada beliau Ibrahim, putera beliau, dan nafasnya sudah tersendat-sendat. Maka diterimalah oleh beliau dan diletakkan dalam pangkuan, ternyata Ibrahim sedang sakaratul maut, sehingga beliaupun menangis sambil berucap:
“Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan sesungguhnya kita ini kepada-Nya akan kembali. Berlinanglah air mata, bersedihlah hati, dan kita tidak mengatakan selain yang diridhai Tuhan kita. Sesungguhnya kita, karena berpisah denganmu hai Ibrahim, benar-benar bersedih hati.”

Beliau Rasulullah SAW juga diuji dengan kematian yang dialami putri-puti beliau, namun beliaupun bersabar dan mengharap pahala dan ridha dari Allah SWT. Saat Rasulullah SAW berziarah kemakam putrinya Zainab, dalam hadits sakhih beliau bersabda:
“Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sekiranya kalian mengetahui yang saya ketahui kalian sedikit ketawa dan banyak menangis!”

Tidak hanya itu saja, dalam perjalanan dakwahnya beliau juga diuji dengan berbagi issu yang menimpa beliau. Mereka mengatakan Rasulullah sebagai tukang sihir, ahli sanjak, seorang dukuan atau berbagai cemoohan lainnya, namun beliau tetap bersabar, tetap istiqomah di jalannya serta mengharap pahala dan ridha dari Allah SWT.
Dari uraian ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa ujian itu ajaib dan tak terduga-duga, bermacam-macam bentuknya serta bisa menimpa siapa saja termasuk orang-orang yang beriman. Maka dari itu tidak ada cara yang lebih baik kecuali bersabar.
Demikian juga orang shalih, pada zaman dahulu maupun zaman akhir kelak akan senantiasa mendapatkan ujian. Kita lihat bagaimana Nabi Nuh a.s meratap dan menangis di jalan dakwah, nabi Yahya dibantai, Nabi Zakaria dibunuh, dan para imam dipenjara, para ulama didera punggung mereka. Ini semua merupakan jalan ujian, seperti firman Allah:
“Telah kujadikan di antara mereka itu imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah-Ku, ketika mereka telah bersabar dan yakin kepada ayat-ayat-Ku”. (As-Sajdah: 24)

Imam Ahmad Rahimahullah, imam ahli sunnah wal jamaah, pernah dimasukkan dalam penjara dan didera denagn cemeti. Hal ini diterima bliau, bukan karena bliau begitu mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai ibadah yang dijalankan dengan begitu luar biasa. Namun bliau diuji karena Allah akan meningkatkan kedudukan bliau di sisi-Nya. Dimasukkan ke dalam penjara dan kemudian di keluarkan, laksana emas merah yang di masukkan ke dalam api dan kembali sebagai emas merah yang murni.
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman. “Sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Banyak orang yang mengaku bahwa dirinya mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Tapi di antara mereka banyak yang mendengarkan adzan namun tidak segera beranjak menuju ke masjid. Ini adalah ciri orang munafik kalau dia tidak memiliki alasan syar’i. Disaat mereka mendapatkan ujian kehilangan anak, lalu mereka marah dan mengingkari qadla’ dan qadar serta mengucapkan kata-kata yang tidak memiliki dasar. lalu dimanakah letak keimanan dan kebenaran iman mereka?
Berbicara mengenai keimanan, dalam suatu hadits Allah SWT berfirman:
“Wahai para hamba-Ku, apabila hamba yang beriman bangun dan berwudlu dari air dingindan ini adalah salah satu ujian berupa ketaatan dan meninggalkan kasurnya yang lunak, selimutnya yang hangat, lalu menuju air yang dingin untuk berwudl, terus berdiri berdoa kepada-Ku, dan yakin kepada-Ku, aku mempersaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuninya dan memasukkannya dalam surga!”

Tanda orang yang beriman adalah adalah selalu berada dalam barisan orang-orang mukmin. Dia akan mendatangi suara adzan untuk mengerjakan solat dengan penuh kerinduan dan kemauan hangat. Namun kadang-kadang orang-orang munafik juga melaksanakan salat, tetapi dalam melaksanakannya tanpa sedikitpun ada rasa cinta, keikhlasan maupun ketaatan. Allah SWT berfirman:
“Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas untuk menarik pandangan dan pujian manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (An-Nisa’: 142)

Mereka melaksanakan salat dengan malas, hanya ingin memperoleh pujian dari orang lain, mereka membaca Al-Quran dengan kedinginan, tak ada rasa ikhlas, kesungguhan, cinta kasih maupun gairah untuk beribadah kepada Allah SWT, semuanya hanya basa-basi.
Dalam suatu riwayat Imam Ahmad dipenjara karena beliau mengatakan: “Tuhanku adalah Allah!” maka Allah meningkatkan derajat beliau, sehingga dalam setiap persidangan kita sering menyebut nama beliau, bahkan di atas setiap mimbar dan setiap pertemuan. Allah telah meninggikan sebutan beliau.
Allah telah menghapuskan musuh-musuh beliau. Misalnya yang menentang beliau, seperti mentri Ibnu Ziyat, Imam Ahmad telah mendoakannya agar celaka. Akhirnya pun Ibnu Ziyat disiksa dengan dimasukkan ke dalam tannur tempat penggilingan roti. Akhirnya Ibnu Ziyat tubuhnya tercincang, tersiksa, dan terhapus nama baiknya. Semua itu bisa terjadi karena Allah mengangkat derajatnya di atas seorang penguasa yang zhalim.
Hal seperti ini juga pernah dialamai oleh Ahmad Bin Abu Dawud, yang terkenal dengan Ahmad ahli bid’ah. Sedangkan Ahmad bin Hambal adalah Ahmad ahli sunnah. Beliau berdo’a, agar dia celaka, maka diapun tertimpa musibah dengan sakit separuh badannya. Imam Ahmad berdo’a: “Ya Allah, siksalah badannya!” semua ini dilakukan, karena dialah yang menyebabkan Imam Ahmad disiksa dalam penjara dan mengalami tekanan politk. Pantaslah kiranya kalo Imam Ahmad berdoa demikian.
Orang-orang bertanya: “Bagaimana keadaanmu hai Ahmad bin Dawud?” Dia menjawab: “Adapun jasad saya ini, demi Allah kala seekor lalat menganiaya seakan-akan rasanya kiamat telah tiba, sedangkan jasad saya yang sebelah ini, demi Allah kalau dipotong dengan gergaji tidaklah terasa apa-apa. Kenapa? Karena dia penghalang kebenaran!”
Sedangkan Imam Ahmad, beliau sering disebut ribuan kali dalam kitab-kitab hadits. Dia banyak mendapatkan ujian dari Allah, termasuk ujia ketika daia harus menghadapi penguasa yang Zhalim. Ketika itu, beliau ditamper dengan tangan sebelum dipersilahkan duduk oleh penguasa yang zhalim itu. Maka beliau berdo’a kepada Allah: “Ya Allah Sungguh dia telah memukulku! Ya Allah, maka potonglah tangannya!” maka mentri yang zhalim itupun diuji oleh Allah dengan penguasa zhalim di atasnya, dan mentri yang zhalim itupun dipotong tangannya.
Sementara itu, dalam kisah lain Ibnu Taimiyah telah diuji dengan berbagai macam ujian. Beliau telah menempuh segala ujian yang diriwayatkan dalam sejarah isalam. Beliau diuji kehormatan dengan berbagai fitnah murahan yang tidak ada buktinya.
Beliau dijebloskan ke dalam penjara karena mengajak umat untuk beriman kepada Allah dan membimbing umat menuju jalan yang terang.
Ketiaka dimasukkan penjara didoronglah pintunya sehingga mendesak beliau, maka beliau berpaling kepada penjaga pintu yang sedang mengunci pintu, dan berkata:
“Maka dijadikan antara mereka suatu pagar berpintu, di dalamnya berisi rahmat dan di luarnya tempat datangnya siksa.” (Al-Hadid: 13)

Beliau pernah menghadap seorang sultan dari Bani Saljuk, lalu sultan itu berkata kepada beliau: “Hai Ibnu Taimiyah, orang-orang mengatakan bahwa engkau menghendaki kerajaan kami.” Beliaupun hanya tersenyaum. Beliau adalah orang yang hanya menghendaki ridha dari Allah dan kampong akhirat, yang memandang bahwa dunia itu murah tak berharga dibandingkan dengan duduk di masjid selama setengah jam.
Oleh karena itu kitab-kitab, pelajaran dan maderasah beliau tetap hidup dalam setiap hati orang Islam, dan kita tidak mengetahui nama sultan itu sampai hari ini.
Allah telah mengangkat derajat orang ‘alim itu, dan beliaulah satu-satunya, karena beliau mengabdi kepada Allah. Sesungguhnya ujian yang menimpa Ibnu Taimiyah hanyalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT yang tak lain menumbuhkan baginya keluhuran martabat.
Jika seseorang diuji lalu dia bersabar dan mengharap ridha Allah, maka Allah meninggikan sebutannya dan mengangkat martabatnya, sehingga diperoleh balasan pahala. Dan alangkah baiknya, di antara manusia ada yang berjihad, mencurahkan dan memberikan segala yang ada padanya kemudian mendapat kemenangan pada tahap terakhir.
Sementara itu Bilal bin Rabbah direndahkan dengan berbagai penghinaan dari para pemuja berhala. Padahal Allah SWT mengetahui bahwa Bilal mengucapkan La ilaha ilaullah, melaksanakan shalat, dan menghendaki ridha Allah untuk kemuliaan akhirat. Allah SWT melihat Bilal diseret di bukit-bukit Makkah dan ditindihkan batu besar pada punggungnya, sedangkan Bilal terus mengucapkan: “Tunggal, Tunggal!” Dalam kekuasaan Allahlah untuk menyapu orang-orang yang berdosa ini, dan dalam kekuasaan Allah pulalah untuk melepas dan membebaskan orang ini.
Demikianlah diperlihatkan ujian yang ditimpakan terhadap orang ‘alim. Bilal bin rabbah dengan keimanan yang dimilikinya beliau mampu menundukkan kekafiran dan kemusyrikan yang merajalela, sehingga beliau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang mulia di sisi Allah SWT. Oleh karena itulah Bilal bin Rabbah dikenal hingga sekarang.
Kaum muslimin mengenalnya karena dia adalah mu’adzzin Islam:
“Maka mencabut nyawa atas iringan adzannya adalah adzan Bilal.”
Karena itu waktu Rasulullah SAW menaklukkan dan memasukui kota Makkah, dalam hadits shahih, beliau menyuruh Bilal menyuarakan adzan. Maksud Rasulullah SAW adalah untuk menjengkelkan orang-orang musyrik, para penghulu kesesatan dan taghut.
Maka duniapun memasang telinga, dan zamanpun mendengarkan suara adzan yang diserukan Bilal:
“katakanlah kepada Bilal, keinginan dan hati yang jujur: ‘Hiburlah kami dengannya!” kalau anda benar-benar orang yang shalat. Ber-Wudhulah dengan air taubat hari ini dengan ikhlas, dengannya diketuk pintu-pintu surga yang delapan.”

Betapa Bilal telah diuji oleh Allah SWT dan dia mampu bersabar, sehingga diangkatlah sebutannya untuk selama-lamanya. Bilal menjadi salah satu penghulu di antara para penghulu agama ini, dia menjadi pemuka dan teladan bagi umat Islam. Orang islam merasa mendapatkan kemuliaan karena memiliki saudara Bilal bin Rabbah, semoga Allah meridhai.
Jadi, wahai saudara-saudara seiman yang terhormat, salah satu pelajaran yang sangat berharga yang dapat kita ambil adalah perlu diyakini bahwasanya balasan pahala itu mengiringi kesulitan. Karena itu, dalam kumpulan hadits shahih dari hadits Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Saya masuk kamar Rasulullah SAW selagi beliau menderita sakit keras, lalu saya berkata: “Hai Rasulullah SAW demi ayahku, engkau dan ibuku, sesungguhnya engkau menderita sakit keras!” Beliau menjawab: “Benar!” Saya berkata: ‘Demikian itu karena engkau mendapat dua pahala orang yang sakit?” Beliau menjawab: “Ya! Sesungguhnya aku mendapat sakit sebagaimana sakit dua orang dari kalian. Kemudian beliau bersabda dan berbicara pada Ibnu Mas’ud:
“Tidaklah seorang yang beriman ditimpa suatu kesusahan, kesedihan, duka cita, penderitaan sampai tertusuk duri, melainkan Allah menghapuskan dengannya dari kesalahan-kesalahannya.”

Karena sesungguhnya duri itu apabila menimpa seorang hamba yang tidak diiringi harapan akan ridha Allah maka itu merupakan sebuah musibah, namun apabila diiringi harapan akan ridha Allah maka itu untuk meningkatkan derajat dan martabat manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah memberikan ujian kepada umat manusia bertujuan untuk meningkatkan derajat manusia bukan untuk menurunkan kita. Kalau kita mengharapkan ridha dan pahala surga-Nya tentu Dia akan menguji kita dengan berbagai musibah.
Faedah agung lainnya dari ujian adalah mengajarkan kita suatu pelajaran ‘ubudiyah yang tidak melengahkan kita. Karena dengan ujian kita dilatih untuk merendahkan diri dam merundukkan jiwa, sehingga budipekerti kita akan semakin terdidik. Sebab sebagian manusia ada yang tidak mengerti apa yang mendidiknya.
Sementara itu di antara hikmah yang agung dari ujian itu adalah kita menjadi terdidik dengan pendidikan kesabaran.
Oleh karena itu Ahmad berkata: “Kurenungkan kesabaran dalam Al-Qur’an, maka kulihat ia terdapat pada lebih dari sembilan puluh tempat”.
Dan para ahli ilmu berkata: “Barangsiapa menempuh kesabaran, dia menghubungkannya kepada ridha!”
Berkata pula ‘Umar radhiyallahu’anhu: “Kita telah mencapai kebaikan hidup dengan kesabaran.”
Juga berkata sebagian orang-orang shalih:
“Setelah kita sabar, berhasil dan beruntunglah kita. Maka barangsiapa tidak, tidaklah memiliki keberuntungan, tidak memiliki hikmah, tidak berkesudahan dan tidak mencapai tujuan yang didendangkan dan dituntutnya.”

Untuk itu kita sebagai hamba Allah, kita harus bersabar terhadap setiap ujian yang menimpa kita, dengan senantiasa mengharapkan pahala dari Allah SWT.
Rasulullah SAW dalam hadits marfu’, beliau bersabda:
“Ajaib sekali urusan orang beriman itu, sesungguhnya segala urusannya adalah merupakan kebaikan baginya. Kalau beberapa nikmat menimpanya dia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan kalau kesempitan menghimpitnya dia bersabar, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan tak ada hal itu kecuali bagi orang beriman.”

Maka kita harus bersabar dalam menghadapi ujian harga diri yang menimpa kita. Karena sesungguhnya orang-orang yang baik, yang mengemban dakwah membawa agama Allah adalah orang-orang yang paling banyak menderita dalam menghadapi ujian kehormatan. Namun ujian yang menimpa kita ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ujian yang pernah menimpa Rasulullah SAW. Mereka orang-orang kafir sering mengatakan bahwa belliau itu adalah tukang sihir, dukun dan penyair, dalam menghadapi ujian ini beliau tetap sabar dan mengharapkan ridha dan pahala dari Allah saja. Maka Allah mengangkat martabat beliau dan menghinakan musuh-musuhnya.
Dalam medan dakwah, tidak dapat dipungkiri suatu saat kita pasti akan menjumpai sikap kasar, menjumpai sikap berpaling, menghadapi sikap orang-orang yang sombong dan takabur, serta akan menghadapi cercaan dari para pencela dan penghinaan orang-orang yang tak berbudi. Oleh karena itu hendaknya kita harus bersabar, karena sesungguhnya kemenangan itu ada pada orang-orang yang sabar dan mengharap ridha dari Allah SWT. Oleh karenanya kita hendaknya bersabar menghadapi ujian kehilangan, yakni kehilangan segala apa yang kita cintai, para sahabat atau saudara terdekat serta cobaan yang menimpa jasmani kita, misalnya kehilangan sebagian panca indera yang kita miliki. Dengan kesabaran itu kita hanya mengharapkan pahala dan ridha Allah saja. Kalau hal itu sudah kita ketahui, maka kita mohon kesehatan dan memohon agar tidak terkena musibah dan ujian.
Suatu ketika Al-Fudlail bin Tyadh Abu ‘Ali radhiyallahu’anhu membaca firman Allah:
“Dan benar-benar Aku akan menguji kalian sehingga aku menyaksikan orang-orang yang berjihad dari kalian dan orang-orang yang sabar, dan sehingga aku menguji kebenaran berita-berita kalian.” (Muhammad: 13)

Ketika membaca ayat itu dia berkata:
“Ya Allah janganlah menguji kami sehingga Engkau membuka aib kami!” maksudnya biarkanlah kami menutupi aib dan kelemahan kami. Karena ada sebagian manusia yang berdo’a mohon ujian. Namun ketika ujian itu tiba-tiba datang ternyata banyak di antara mereka yang tidak sabar. Seperti kaum Bani Israil yang takut dan lemah saat menghadapi perang, padahal sebelumnya dia berdoa memohon perang. Karena itu Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan kita untuk senantiasa meminta maaf dan keselamatan. Dalam suatu riwayat seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, dia berkata: “Hai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu doa untuk mohon kepada Allah!” Beliau menjawab: “Katakanlah: “Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu maaf dan kesehatan.
Dan dalam hadits juga dijelaskan bahwasanya ketika beliau mengunjungi seorang sahabat ‘Ansar’ yang bernama Malik yang sedang sakit dan badannya sudah kurus. Malik berkata: “Hai Rasulullah, saya telah berdo’a: “Ya Allah kalau Engkau akan menimpakan siksaan kepadaku di akhirat segerakanlah siksaan itu di dunia!” maka Allah lalu mengujiku.” Beliau rasulullah SAW bersabda: “Tidakkah kau suka kuajarkan lebih baik dari itu? Yaitu:
“Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari neraka!” Maka kami selamanya hanya mohon keselamatan.
Marilah kita mohon keselamatan kepada Allah, agar kita selalu tertutup dari aib dan kelemahan kita. Karena kita hanya manusia biasa dan tatkala kita mendapatkan ujian mungkin saja kelemahan kita terbuka dan kita tidak dapat sabar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar